Warta

Masalah Mental Naik Berlipat

KLIK BALIKPAPAN – Kementerian Kesehatan mencatat adanya peningkatan prevalensi masalah mental, sebelum dan sesudah pandemi. Kondisi pandemi Covid-19 dinilai memnberi pengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat.

“Kondisi pandemi memperparah atau semakin memengaruhi kesehatan jiwa,” ujar Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes, Vensya Sitohang, melansir laman Sehat Negeriku.

Ia menjelaskan angka prevalensinya, meningkat dua kali lipat dibanding kondisi sebelum pandemi. Kelompok yang terpapar dengan gangguan jiwa juga berbeda-beda.

Dokter spesialis kesehatan jiwa Hervita Diatri menjelaskan ada beberapa kelompok yang paling banyak terpapar masalah mental.

Pertama, mereka yang sebelumnya tidak memiliki masalah mental, lalu memiliki masalah hingga mengalami gangguan jiwa.

Related Articles

Kelompok kedua adalah yang telah memiliki masalah mendasar, yang diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19.

Kelompok ketiga, mereka yang memiliki masalah kesehatan fisik dan kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan. Kondisi tersebut menimbulkan rasa cemas dan memicu adanya masalah mental.

Kelompok terakhir, yang paling banyak ditemukan pada Juli 2021, saat Indonesia menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19.

“Saat masalah oksigen langka dan asupan oksigen ke otak itu kurang, bisa saja pada akhirnya menyebabkan gangguan jiwa yang menetap,” ujar Hervita.

Peningkatan juga ditemukan terkait adanya pikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri.

Pada lima bulan pertama pandemi Covid-19, survei menemukan, 1 dari 5 orang di Indonesia usia 15-29 tahun berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Angka itu meningkat pada satu tahun berjalannya pandemi. Sebuah survei menemukan 2 dari 5 orang di Indonesia terpikir untuk bunuh diri.

“Di tahun awal 2022, 1 dari 2 orang memikirkan untuk mengakhiri hidup,” ujar Hervita.

I Pewarta: Yoyo I Editor: Jihana

Back to top button