Humaniora

Riset: Tubuh Butuh Liburan

KLIK BALIKPAPAN – Para ilmuwan dari Queen Mary University of London mengungkapkan, liburan selama dua pekan mampu meningkatkan kinerja sistem kekebalan tubuh manusia, sekaligus melawan infeksi. Riset itu diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Immunology.

Penelitian tersebut menyimpulkan, saat berlibur, seseorang bisa memperbaiki sistem kekebalan tubuh dan membantu melawan infeksi secara alami.

Saat liburan, manusia akan dihadapkan dengan lingkungan baru. Perubahan lingkungan itu terbukti akan memengaruhi fungsi sel-T, yaitu satu jenis sel darah putih yang sangat penting bagi kekebalan tubuh. Peningkatan fungsi sel-T terbukti bisa memperkuat orang yang terjangkit virus HIV AIDS, radang sendi, dan penyakit kronis lain.

Penelitian lain ihwal manfaat liburan bagi tubuh manusia, pernah pula dijelaskan para ilmuwan dari Stanford University, dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science. Hasil riset itu membuktikan, berlibur hanya dengan berjalan di alam bebas bisa menjadi cara ampuh mengurangi pikiran negatif.

Kesimpulan itu melewati masa percobaan terhadap 28 orang yang berjalan kaki selama 90 menit di alam bebas. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama berjalan-jalan di sekitar Stanford, tempat yang ditumbuhi rerumputan, pohon, dan semak belukar.

Kelompok lainnya, berjalan di salah satu ruas jalan tersibuk di sekitar Palo Alto, California, Amerika Serikat.

Hasilnya, melalui kuesioner para partisipan, kelompok orang yang berjalan di sekitar Stanford cenderung memperlihatkan penurunan aktivitas otak yang berhubungan dengan penyakit mental. Sebaliknya, pikiran negatif justru kerap muncul di kepala para partisipan yang berjalan di ruas jalan Palo Alto.

Bahkan, ada fenomena rancak ihwal kebutuhan liburan pada kesehatan tubuh dan kesehatan mental manusia. Ternyata sebagian manusia yang terkungkung di rumah bisa dengan jelas membawa dampak yang sangat buruk.

Terutama bagi mereka yang kecanduan travelling atau bagi mereka yang pekerjaannya bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Kondisi ini disebut dromomania, yaitu diagnosis dan statistik gangguan mental yang dikaitkan dengan masalah kejiwaan dan gangguan kontrol impulsif seseorang.

Kondisi ini digambarkan sebagai kecenderungan yang masuk kategori maniak khusus bagi seseorang yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika ingin pergi jalan-jalan atau travelling.

I Pewarta: Taufik

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker